-BERFIKIR DAN BERJUANGLAH DEMI KEBAHAGIAAN YANG AKAN DATANG- -JIKA KAU INGIN MENGUASAI DUNIA MAKA KUASAILAH ILMU- -JIKA KAU INGIN MENGUASAI AKHIRAT MAKA KUASAILAH ILMU- -CARILAH ILMU SAMPAI KAU TAK MENEMUKAN LAGI KATA ILMU DI KEHIDUPANMU- -ILMU BAGAIKAN SESEKOR BINATANG JIKA KAU INGIN TETAP MEMILIKI ILMU MAKA IKATLAH ILMU ITU DENGAN BUKU-
Kamis, 04 Desember 2008
LOMBA PENULISAN ESAI USD-2009 LOMBA PENULISAN ESAI URBAN SUFISM DAYS 2009
Falsafah dan Agama Universitas Paramadina
Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-11 Universitas Paramadina, Program Studi Falsafah & Agama dan Himpunan Mahasiswa Falsafah & Agama (HIMAFA) Universitas Paramadina menyelenggarakan LOMBA PENULISAN ESAI URBAN SUFISM DAYS 2009 bagi pelajar Sekolah Menengah Atas atau Sederajat (MA/SMU/SMK/STM/dll.) di seluruh Indonesia. Memperebutkan total hadiah Rp. 15.000.000,-, ditambah sertifikat dan plakat.
KETENTUAN SAYEMBARA:
Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran, atau mengambil dari karya yang sudah ada;
Naskah belum pernah diterbitkan di media apapun, dan tidak sedang diikutkan dalam kegiatan serupa;
Peserta sayembara memilih satu di antara tiga tema yang telah ditentukan;
Sayembara esai ini menekankan aspek orisinalitas pemikiran, argumentasi, ketajaman analisa, dan gaya penulisan;
Lima orang penulis esai terbaik akan dipanggil ke Universitas Paramadina untuk diwawancarai oleh Dewan Juri, dan ditentukan sebagai juara 1, juara 2, juara 3, juara harapan I, dan juara harapan II;
Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak, mengikat dan tidak bisa diganggu-gugat;
Naskah yang masuk menjadi hak panitia dan tidak dikembalikan;
PERSYARATAN-PERSYARATAN:
Peserta adalah siswa-aktif Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat;
Peserta hanya boleh mengirim 1 (satu) naskah;
Naskah sayembara dikirim rangkap 2 (dua), diketik di atas kertas ukuran A4 (margin 3 cm di setiap sisi), spasi ganda, menggunakan huruf jenis Times New Roman ukuran 12 point atau Arial 11 point, dengan panjang naskah antara 10-20halaman;
Kiriman naskah harus dilengkapi dengan keterangan diri penulis: a] Biografi singkat; b] Foto kopi kartu tanda pelajar dan atau surat keterangan dari sekolah terkait; c] 2 (dua) lembar foto terbaru ukuran 3 x 4; dan d] Alamat lengkap, nomor telepon, dan alamat email;
Naskah dimasukkan ke dalam amplop tertutup, di sudut kiri atas amplop ditulisi "LOMBA PENULISAN ESAI URBAN SUFISM DAYS 2009";
Naskah dikirim ke alamat: Panitia Urban Sufism Days 2009, d/a. Universitas Paramadina Jl. Jenderal Gatot Subroto kav. 97 Mampang Jakarta 12790 Indonesia;
Naskah dikirim paling lambat, Kamis 15 Januari 2009 (cap pos atau diantar langsung).
HADIAH:
Lomba Esai ini memperebutkan hadiah total 15 Juta Rupiah, dan juga berhak mendapatkan sertifikat dan plakat pemenang.
PENGUMUMAN JUARA & PENYERAHAN HADIAH
Juara lomba penulisan esai ini akan diumumkan dalam puncak acara Urban Sufism Days 2009 pada hari Kamis, 22 Januari 2009 di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina, Jakarta.
Tema Lomba Penulisan Esai Urban Sufism 2009
Paramadina di Mataku;
Spiritualitas di Kota Besar;
Remaja dan Spiritualitas;
Dewan Juri:
Suratno, M.A
Dr. Abd. Moqsith Ghazali
Parid M. Ibrahim, M.Si
Contact Person:
Amas (021-98741481);
Indra (0856 7907 785)
Email:
usd2009paramadina@gmail.com
himafaparamadina@gmail.com
Blog:
www.usd2009-paramadina.blogspot.com
Minggu, 06 Juli 2008
Undangan Diskusi “Diskursus Pluralisme Dikalangan Mahasiswa”
Undangan Diskusi “Diskursus Pluralisme Dikalangan Mahasiswa”
Kami dari Himpunan Mahasiswa Falsafah dan Agama Universitas Paramadina bekerjasama dengan KAPAL Perempuan mengundang kepada Bpk/Sdr/I untuk menghadiri Diskusi terbuka yang akan dilaksanakan pada :
Hari : Rabu, 09 Juli 2008
Tempat : Ruang A1-5 Universitas Paramadina
Pukul : 14.00 – 16.00 wib
Tema : "Politik Identitas dan Imaji Perempuan dalam Karya Sastra"
Pembicara : Sri Endas Iswarini dari KAPAL Perempuan
Dan
Hari : Rabu, 26 Juli 2008
Tempat : Ruang A1-5 Universitas Paramadina
Pukul : 14.00 – 16.00 wib
Tema : " Sastra dan Hak-hak Asasi Perempuan dalam Perspektif Feminis "
Pembicara : Adrianna Vanny, Kandidat Doktor Sastra.
Rabu, 02 Juli 2008
Ahmad Wahib Award

Acara puncaknya diadakan di kampus paramadina cuy!!!
jadi kawan-kawan se-indonesia yang terasa tertantang oleh sayembara ini.....
ayo kita ramekan lomba penulisan ini...
kita buktikan bahwa kita adalah orang-orang yang bertanggung jawab.
Senin, 02 Juni 2008
Sabtu, 19 April 2008
Motivasi Beragama
Tema di atas bukanlah tema yang ditujukan untuk merepresentasikan atau menjelaskan keseluruhan motivasi dari orang beragama, akan tetapi hanya sesuatu yang dirasakan dan dialami oleh penulis. Dalam tulisan ini subjek dan objeknya adalah penulis sendiri sehingga pada tulisan ini dimungkinkan tidak akan bisa menyampaikan secara benar apa sebenarnya motivasi penulis dalam beragama, karena penulis masih merasa kurang dalam memahami keberagamaan penulis serta masih dalam tahap pencarian dan pencapaian kebenaran yang haqiqi.
Walaupun dalam masa kebimbangan dan pencarian, setidaknya penulis sedikit merasakan dan menjalani kehidupan sebagai orang yang beragama, penulis bisa melihat dan merasakan apa sebenarnya yang menjadi motivasi penulis dalam bergama. Motivasi yang penulis rasakan dalam beragama diantaranya, sebagai penentuan jati diri atau identitas, sebagai penenteram hati bagi kehidupan penulis, Sebagai latihan kedisiplinan, sebagai penentu sikap dalam memandang kehidupan, dan sebagai motivator dalam menjalani kehidupan.
Sebagai penentuan jati diri atau pencarian identitas yang dimaksud adalah dimana penulis merasakan bahwa dengan beragama kita mempunyai nama atau identitas tersendiri, bahkan penulis memandang bahwa beragama adalah sesuatu yang fitrah dan bergama adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap manusia, jadi ketika penulis menganut sebuah agama penulis merasa menemukan jati diri penulis dan sebagai penentuan identitas diri dalam berinteraksi dengan yang lainnya. Sebagai penenteram hati bagi penulis, karena penulis merasa bahwa ada sandaran hidup yang pasti dan tidak berubah serta ada tuntunan dan bimbingan dalam menghadapi segala problema kehidupan yang ada.
Dengan dogma dan perintah ritual keagamaan yang ada pada sebuah agama memberikan pelatihan bagi penulis untuk belajar disiplin dan konsekuen dalam menghadapi dan menjalani kehidupan. Dogma dan ketentuan yang ada pada agama juga memberikan kita sebuah sikap yang pasti dan mempunyai cara pandang yang berbeda dalam menjalani kehidupan di dunia yang akan dibawa atau berdampak kepada akhirat. Dan yang terakhir adalah bahwa dengan beragama penulis merasa ada sesuatu yang mendukung penulis dalam menjalani kehidupan ini, dukungan atau motivasi yang disampaikan atau diberikan oleh agama juga adalah motivasi-motivasi yang membangun dan mendorong penulis untuk mencapai kesuksesan dalam menjalani kehidupan.
Demikianlah sedikit uraian motivasi penulis dalam beragama, walaupun penulis merasa masih ada motivasi penulis dalam bergama yang lebih partikular dan lebih spesifik. Akan tetapi uraian di atas sedikit menjelaskan apa sebenarnya yang menjadi motivasi penulis dalam beragama. Dan mudah-mudahan uraian pendek di atas bisa menjadikan awal dan sebuah pendorong bagi kesadaran penulis dalam beragama, serta memberikan sedikit jalan bagi penulis untuk mencapai tujuan hidup dan kebenaran yang haqiqi.
Post-Strukturalisme
Post-Strukturalisme
Setiap tesis dipastikan akan ada anti-tesis sebagai lawan atau pengembangannya, begitu pula dengan sebuah pemikiran yang muncul pada masanya maka akan ada pemikiran baru baik itu yang berlawanan dengan pemikiran sebelumnya ataupun pengembangan dari pemikiran tersebut. Post-strukturalisme adalah sebuah pikiran yang muncul akibat ketidak puasan atau ketidak setujuan pada pemikiran sebelumnya, yaitu strukturalisme. Strukturalisme dibangun atas prinsip Saussure (Ferdinand de Saussure, 1857-1913) bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa, dilihat sebagai bagian yang kurang penting. . Dalam pemikiran post strukturalis, berpikir sementara menjadi hal yang utama.
Beberapa tokoh yang mendukung atau condong pemikirannya kepada Post-Strukturalisme diantaranya adalah seorang flusuf Prancis Jacques Derrida, pemikiran psikoanalisis Jacques Lacan, ahli teori kebudayaan Michael Foucault dan Jean-Francois Lyotard.
Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda, tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. Ciri dari Derrida melampaui pemikiran Saussure adalah pemikiran Derrida yang percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Dan Derrida memandang bahwa Saussure tidak bisa melepaskan dirinya dari pandangan logosentris, sejak Saussure lebih mengunggulkan bahasa di atas tulisan.
Selain itu Derrida juga menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Dalam tulisan, penanda selalu produktif, mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified.
Pemikiran post-strukturalis juga berkembang di Amerika pada tahun 1970-an, khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale, atau disebut para dekonstruksionis Yale. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida.
Jadi secara garis besarnya pemikiran post-strukturalisme adalah pemikiran yang tidak hanya terpaku kepada tulisan ataupun bahasa yang dituliskan akan tetapi selain tulisan, post-strukturalis juga tidak meninggalkan maksud dari sang penulis yang membuat sebuah tulisan. Lebih jelasnya selanjutnya penulis akan mencoba menguraikan beberapa tokoh post-strukturalisme serta pemikiran-pemikirannya.
Tokoh Post-strukturalisme
Meskipun banyaknya para pemikir post-strukturalisme, akan tetapi dalam makalah ini penulis hanya akan menyampaikan salah satu tokoh dari post-strukturalisme, yaitu Jacques Derrida.
a. Riwayat Hidup dan Karyanya
Jacques Derrida lahir di al-Jazair pada tanggal 15 Juli 1930, dan ia adalah seorang Filusuf Prancis keturunan Yahudi. Pada tahun 1949 Ia pindah ke Prancis dan menetap di Prancis hingga akhir hayatnya. Beliau kuliah dan belajar di Prancis hingga akhirnya dia menjadi maitre-assistant, dosen tetap di bidang Filsafat. Selain dosen tetap di bidang filsafat, beliau juga dalam beberapa waktu sebagai dosen tamu di
Pada tahun 1962, Derrida menerbitkan terjemahan karangan Husserl Asal-Usul Ilmu Ukur Introduction au probleme du signe dans la phenomenology de Husserl (suara dan fenomena. Pengantar pada masalah tanda dalam Fenomenologi Husserl) memberi komentar panjang lebar atas uraian Husserl tentang tanda dalam buku Penelitian-Penelitian Logika, Bab I, pasal 1 s/d 9. bersama suatu pendahuluan. Kemudian tahun 1967 Derrida menerbitkan tiga buku sekaligus, yaitu L'écriture et la différance (tulisan dan perbedaan), De la grammatologie (tentang gramatologi), dan La voix et le phenomène. Selain itu
Pada tahun 1972 terbit tiga buku lagi, yaitu Marges de la philosophie (pinggiran-pinggiran filsafat), la dissemination (penyebaran) dan Positions (posisi-posisi). L’archeologie du frivole (1967) (arkeologi tentang yang sembrono), Glas (1974), Eperons (1976), Eperons. Les styles de Nitzsche (1978), La verite en peinture (1978) (Kebenaran dalam Seni Lukis).La carte postale de Socrate a Freud et au-dela (1980) (Kartu pos dari Socrates kepada Freud dan di seberang-nya), De l’esprit. Heidegger et la question (1987) (tentang spirit. Heidegger dan pertanyaan), Spectress de Marx Spectre berarti : baik momok maupun spectrum), dan Politiques de l’amitie (1994) (Politik Persahabatan).
Sejak tahun 1974 Derrida ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan himpunan dosen filsafat yang memperjuangkan tempat yang wajar untuk filsafat pada taraf sekolah menengah : Greph (Group de recherché sur l’enseignement philoshophique) (Kelompok penelitian tentang Pengajaran Filsafat). Kelompok ini didirikan akibat dari situasi lingkungan pada saat itu yang mempersoalkan filsafat pada sekolah menengah. Pada saat ini juga Derrida menulis sebuah artikel yang berjudul Qui a peur de la philoshophie? (1977) (Siapa Takut pada Filsafat?). dan sebuaha karangan-karangan baru yang dikumpulkan dalam sebuah buku Du droit a la phlosophie (1990) (Tentang Hak atas Filsafat).
Dari tulisan-tulisan yang di buat atau ditulis oleh Derrida, maka sudah bisa kita lihat bahwasanya Derrida menulis atas dasar kritikan-kritikan terhadap para filusuf-filusuf, ilmuan-ilmuan, dan sastrawan-satrawan. Akan tetapi komentarnya itu atau kritikannya itu dalam bentuk khusus, dengan cara inilah pemikiran Derrida selangkah demi selangkah berkembang. Dari hasil kritikan serta komentarnya itu Derrida menghasilkan sebuah pemikiran atau menyajikan teks-teks baru yang tidak dikatakan dalam teks-teks yang yang dia kritik. Prosedur yang dilakukan oleh Derrida ini disebut dengan deconstruction, “pembongkaran”.
b. Pemikiran Filosofis
Sebagaimana yang dilakukan oleh para filusuf sebelum Derrida khususnya Heiddeger dan Levinas yang mempersoalkan dan mengkritik seluruh tradisi filsafat barat, begitupula dengan Derrida yang mebicarakan dan mempersoalkan hal tersebut. Derrida juga terpengaruh dengan pemikiran Heidegger sebagaimana pengakuannya “segala sesuatu yang saya usahakan ini tidak mungkin tanpa lingkup keterbukaan yang diciptakan oleh pemikiran Heidegger”. Dan dikatakan juga bahwasanya pemikiran Derrida merupakan semacam radikalisasi dari filsafat Heiddeger, akan tetapi tidak dalam artian bahwa dia meneruskan pemikiran Heidegger begitu saja. Sebaliknya, ia mengembangkan pendiriaanya sendiri dengan mengktitik dan mempermasalahkan antara lain Heiddeger.
Salah satu pandangan Derrida yaitu tentang ilmu pengetahuan dan filsafat, bagi Derrida filsafat tidak dapat dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan. Filsafat dan ilmu pengetahuan pada dasarnya merupakan hal sama, karena kedua-duanya berakar dalam rasionalitas yang sama. Yaitu bahwa rasionalitas itu tidak lain daripada pemikiran Barat yang lahir di Yunani dan berlangsung sampai hari ini.
Pemikiran Barat yang pada waktu itu berpandangan bahwa yang ADA itu dimengerti sebagai “kehadiran”, maka menurut Derrida pemikiran tentang ada sebagai “kehadiran” itu disebut juga kedalam “metafisika”. Dan pandangan ini selanjutnya berpengaruh terhadap pandangan tentang tanda. Dalam tradisi metafisis tanda menghadirkan sesuatu yang tidak hadir. Tanda mengganti apa yang tidak hadir. Derrida juga berpendapat bahwa kehadiran tidak merupakan sesuatu instansi independen yang mendahului tuturan dan tulisan kita, tetapi sebaliknya ditampilkan dalam tuturan dan tulisan kita, dalam tanda yang kita pakai.
Pandangan ini adalah pandangan yang berbalik dari apa yang disebutnya “Logosentrisme” : pemikiran tentang ada sebagai kehadiran. Dan pandangan ini juga yang menjadi analisis terhadap pandangan tentang tanda yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure, perintis besar linguistik modern, yang memperlihatkan bahwa di situ pun masih ada sisa-sisa logosentrisme.
Kemudian Derrida berusaha memikirkan tanda sebagai trace(bekas), suatu kata yang sebelumnya sudah dipakai sebagai istilah teknis dalam filsafat, pada plotinus misalnya dan di zaman kita sekarang pada Heiddeger dan terutama Levinas. Bekas tidak mempunyai substansi atau bobot sendiri, tetapi hanya menunjuk. Bekas tidak dapat dimengerti tersendiri (terisolasi dari segala sesuatu yang lain), tetapi hanya sejauh menunjuk kepada hal-hal lain. Bekas mendahului objek. Bekas itu sebelumnya bukan efek, melainkan terutama penyebab, kata Derrida. Sehingga bisa dikatakan bahwa tanda secara definitive (dan tidak untuk sementara saja) mendahului kehadiran; tanda selalu sebelum objek.
Menurut Derrida jaringan tanda atau rajautan tanda bisa di sebut dengan “teks”, Derrida menggunakan kata teks dalam arti yang jauh lebih luas daripada arti yang biasa, sebab bagi dia segala sesuatu yang ada mempunyai status teks. Segala sesuatu yang ada merupakan teks. Segala sesuatu yang ada ditandai tekstualitas. Tidak ada hors-texte, kata Derrida, tidak ada sesuatu di luar teks. Dan jika fenomenologi dulu asyik berbicara dengan intersubyektifitas, maka Derrida sekarang berbicara tentang intertekstualitas, karena suatu teks tidak pernah terisolasi tetapi selalu berkaitan dengan teks-teks lain.
Derrida menerangkan tengtang ilmu “Gramatologi” ilmu tentang Gramma, huruf-huruf, inskripsi, tulisan. Gramma adalah “tanda dari tanda” atau tanda yang menunjuk kepada tanda lain. Maka dari itu dapat dikatakan juga bahwa gramatologi adalah ilmu tentang tekstualitas.
Selain itu pemikiran Derrida yang lainnya yaitu konsepnya tentang Differance, dimana kata ini tidak akan ditemukan dalam kamus bahasa Prancis, karena kata ini dibuat sendiri oleh Derrida. Para pemikir dan penerus pemikiran Derrida cukup kesulitan dalam memahami kata Differance, sebab kata tersebut tidak “ada”. Mengatakan bahwa Differance “ada” akan berarti menguraikannya dalam suasana “kehadiran”. Karena kata ini dimaksudkan untuk melampaui sesuatu yang metafisika atau melampaui pemikiran yang ditandai ke-hadiran.
Derrida memberi berbagai penjelasan tentang kata Differance ini, setidaknya ia menguraikan kata ini dengan empat arti yaitu, Pertama-tama, Differance menunjuk kepada apa yang menunda kehadiran. Differance adalah proses penundaan (sekaligus aktif dan pasif), yang tidak didahului oleh suatu kesatuan asli. Kedua, Differance adalah gerak yang mendiferensiasikan. Dalam arti Differance adalah akar bersama bagi semua oposisi antara konsep-konsep seperti misalnya inderawi-rasional, intuisi-representasi, alam-kultur. Ketiga, Differance adalah produksi semua perbedaan yang merupakan syarat untuk timbulnya setiap makna dan setiap struktur. Perbedaan-perbedaan ini merupakan sebuah hasil Differance. Jadi, arti ketiga ini dekat dengan pemikiran Saussure. Keempat dan terakhir, Differance dapat menunjukkan juga berlangsungnya perbedaan antara ada dan adaan, suatu gerakan yang belum selesai.
Perlu ditambah juga bahwasanya kata Differance tidak boleh dibayangakan sebagai “asal-usul”, sebagai identitas terakhir yang melebihi semua perbedaan faktual. Dan dapat kita katakana juga dan bisa kita lihat bahwa filsafat Derrida ini secara radikal bersifat berhingga. Dalam pemikiran Derrida tidak ada tempat untuk sesuatu pemikiran yang tidak terhingga.
Inilah uraian singkat yang penulis bisa sajikan, dan mungkin uraian ini tidak sampai pada tahapan sempurna karena penulis yakin dan sadar bahwasanya tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, apalagi ditambah dengan kekurang pahaman penulis tentang objek yang telah di uraikan diatas. Akan tetapi mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi awal celah bagi cahaya yang lebih besar dan bermanfaat bagi kita semua.
Bibiliografi
Bertens, Kees. Filsafat Barat Kontemporer Prancis.
Yogyakarta
: Kanisius
http://hanyaudin.blogspot.com/2006/01/berkenalan-dengan-post-strukturalisme.html Kamis, 13-09-2007, 15:31
http://id.wikipedia.org/wiki/Jacques_Derrida kamis, 13-09-2007, 16: 37.
http://hanyaudin.blogspot.com/2006/01/berkenalan-dengan-post-strukturalisme.html kamis, 13-09-2007, 15:31.
http://id.wikipedia.org/wiki/Jacques_Derrida Kamis, 13-09-2007, 16: 37
Kees Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Prancis. hal. 326.
Sains dan Sastra Sebagai Bagian Dari Filsafat
Ketika kita berbicara tentang suatu ilmu, maka kita akan dihadapkan pada berbagai pembagian ilmu. Apapun bentuk dan macam ilmu tersebut pasti mempunyai sebuah sistematika dan cara dalam menyampaikan disiplin ilmu tertentu. Sejak Aristoteles (382-322 SM) berfikir tentang alam dengan rasionya, maka dia dianggap sebagai orang yang pertama kali menggunakan rasionya untuk memandang keadaan disekitarnya, dan kemudian dikenal dengan nama filsafat. Dari sinilah kemudian ilmu berkembang dan meluas sampai sekarang.
Dari perkembangan itulah maka ada sebuah pertanyaan apakah satu ilmu dengan ilmu yang lainnya mempunyai hubungan atau kesinambungan? Ataukah ilmu-ilmu tersebut berdiri sendiri dan tidak ada hubungan. Kalo kita sepakat bahwa ilmu itu berkembang dari satu ilmu kepada ilmu yang lain berarti kita bisa menyebut bahwa adanya kesinambungan atau keterkaitan antara satu ilmu dengan ilmu yang lainnya.
Pada makalah ini penulis akan mencoba mencari korelasi atau hubungan antara ilmu tersebut, penulis tidak akan memuat semua bidang ilmu pengetahuan, akan tetapi hanya sebatas sains dan sastra. Maka apakah sains dan sastra mempunyai hubungan atau bahkan sebagai bagian dari filsafat. Hubungan Sains dengan Filsafat Sebelum kita masuk kepada hubungan antara sains dan filsafat, maka akan disampaikan dulu pengertiannya satu sama lain. filsafat berasal dari kata philoshopia yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”1. sedangkan sains yang dimaksud adalah bidang pengetahuan yang secara tradisional tercakup dalam disiplin disiplin yang yang dikenal dikalangan para sarjana Muslim sebagai (1) ilmu-ilmu matematis (‘ulûm al-ta’âlîm, atau al-‘ulûm al-riyâdhiyah), seperti aritmatika, geometri, astronomi, dan musik serta (2) ilmu-ilmu kealaman al-‘ulûm al-thabî’iyyah), termasuk ilmu-ilmu fisis, biologis, dan ilmu-ilmu kognitif (psikologi).2 jika dilihat sekilas pada pengertian diatas, maka ada hubungan antara filsafat dalam artian seseorang yang mencintai ilmu dan sains sebagai ilmu itu sendiri. Seorang Muslim pertama yang menghubungkan sains dengan filsafat adalah Al-Kindî ( 185 – 260 H/801-873 M ), dia adalah orang yang pertama mengembangkan filsafat dan sains secara serius dan sistematik, adalah juga orang pertama yang mengdefinisikan posisi epistemik sains dalam skema pengetahuan filosofis yang menyeluruh. Dia juga membagi filsafat Aristotelian kepada dua begian yaitu bagian yang teoritis dan bagian yang praktis, dan kedudukan ilmu sebagai cabang filsafat teoritis.3 Dalam risalahnya Fi Al-Falsafah Al-Ûlâ, dia mulai menggambarkan falsafah sebagai bentuk kegiatan intelektual dan pengetahuan tertinggi manusia. Dia mendefinisikan filsafat sebagai “pengetahuan tentang sifat hakiki sesuatu sejauh itu dimungkinkan bagi manusia”. Di tempat lain, dia mendefinisikan filsafat sebagai “pengetahuan tentang hal-hal yang kekal dan universal, tentang eksistensi, esensi, dan sebab-sebabnya. Yang dimaksud dengan “ sifat hakiki sesuatu” (al-asyyâ’ bi-ַhaqâ’iqiha) adalah eksistensi, esensi dan sebab-sebabnya, atau pendeknya, kebenaran-kebenarannya.4 jadi bisa disebut bahwasanya menurut Al-Kindî filsafat adalah kebenaran tentang ilmu pengetahuan yang bersifat kebenaran yang dimana kebenaran tersebut ditujukan untuk manusia. Dalam madzhab paripatetik yang didirikan oleh Al-Kindî mempunyai sebuah alasan epistimologis dan ontologis untuk menerima ilmu-ilmu kealaman, matematika, dan semua cabang ilmu-ilmu itu sebagai bagian dari ilmu-ilmu filosofis, dan alasan untuk menjaga hubungan niscaya antara sains dan filsafat, atau, lebih khusus lagi, ketakterpisahan sains dan metafisika.5
Teks Hukum, Dunia dan Sejarah
Teks Hukum, Dunia dan Sejarah Ringkasan Pengantar : Kesinambungan Teoritis Sebagai sebuah konstruksi teoritis, teori hokum sunni sejak awal telah mengoperasikan dua level diskursus yang antara keduanya harus dibedakan secara jelas kalau kita ingin mendapatkan pemahaman yang cukup mengenai teori ini dan sejarahnya. Sunnisme sebagai sebuah identitas keagamaan dan sekaligus hukum ditetapkan dengan membangun prinsip-prinsip teoti hukum. Ajaran-ajaran teologis tertentu yang elementer, Ushul Fiqh Sunni didasarkan atas sejumlah asumsi dasar yang telah dicirikan sebagai teori hukum yang tetap. Yaitu menganggap empat komponen dasar hukum.
Empat sumber hukum itu hanya dianggap konstan (kekal) sejauh keempatnya didefinisikan secara luas sebagai dasar-dasar bagi sistem hukum. Garis yang membedakan antara yang kekal dan yang tidak kekal (atau level kedua yang akan kita sebut variabel-variabel) adalah sesuatu yang memisahkan sebuah ”sumber” sebagai sebuah postulat atau kumpulan postulat yang diterima secara luas dari cara-cara memahami, menafsirkan, atau menafsirkan kembali sumber tersebut. Variabel-Variabel Teori Hukum Dalam teori hukum, hal ini terwujud dalam sebuah penyelidikan terhadap variabel-variabel yang membentuk kolektivitas yang kita sebut Ushul Fiqh, baik secara diachronic (historis) maupun synchronic. Untuk memahami teori ini, adalah penting memahami tidak hanya yang konstan tetapi juga peran dari variabel-variabel yang memberikan warna khas kepada masing-masing teori, dan penjelasan keunikan individual dari masing-masing pembuat teori itu. Mereka mempunyai tipe-tipe yang berbeda dan mewujudkan diri mereka dalam cara-cara yang bermacam-macam. Kandungan dan Susunan Pokok Persoalan Satu gejala dari variabel-variabel ini adalah fakta tentang kontroversi mengenai materi pokok dari teori hukum sering kali seorang teoritisi menunjukan kesadaran yang dalam terhadap materi-materi yang cocok dan yang tidak cocok untuk dimasukkan dalam teori hukum. Ghazali, misalnya mengritik para teoritisi yang menurutnya telah berlebih-lebihan dalam membahas isu-isu yang berkaitan dengan teologi, hukum positif dan tata bahasa (grammar) Arab.




Muhammad Ibnu Sirin
Muhammad Ibnu Sirin
Ò Imam Ibnu Sirin al-Bashri dilahirkan di kota Bashrah, Iraq, pada 33 H atau (653 M).
Ò Ibnu Sirin hidup di abad pertama kekhalifahan Islam dan belajar fiqih serta hadits dari tangan para pengikut pertama sahabat-sahabat Rasulullah saw.
Ò Karya Ibnu Sirin yang paling termasyhur adalah Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam (Kunci untuk Mengungkapkan Tafsir Mimpi), yang dipandang oleh para penafsir mimpi di dunia Islam sebagai sumber pengetahuan utama yang telah memperkaya jiwa para pembaca serta penafsir mimpi selama seribu tahun silam.
Ò Imam Ibu Sirin memandang mimpi dan arti pentingnya dari sudut pandang Islam, kebenaran yang menjadi landasannya dan yang disingkapkannya bersifat universal.
Ò Di antara tokoh yang hidup sezaman dengannya adalah Imam Anas Ibnu Malik, Imam Hasan al-Bashri, Ibnu 'Awn, al-Fudhayl Ibnu 'Iyadh, dan banyak tokoh lainnya.
Ò Para ulama dan ahli dalam bidang tafsir mimpi, orang-orang di Timur sudah sangat mengenal nama Imam Muhammad Ibnu Sirin yang sangat dihormati karena ketinggian ilmu dan kesalihannya.
Diceritakan bahwasanya Imam Hasan al-Bashri pernah bermimpi dan merasa gundah ketika terjaga. Ia kemudian ingat bahwa Imam Ibnu Sirin adalah seorang ahli tafsir mimpi. Karena sesuatu hal, ia mengutus seseorang kepada Imam Ibnu Sirin seakan-akan orang itu sendiri yang telah bermimpi. Setelah utusan itu menceritakan mimpinya, Imam Ibnu Sirin berkata, Suruhlah orang yang bermimpi ini datang kepadaku menceritakan mimpinya. Didorong oleh rasa ingintahu-nya, pergilah Imam Hasan al-Bashri menemui Imam Ibnu Sirin dan berkata, Aku melihat diriku berada di sebuah rumah kosong dalam keadaan tidak berpakaian dan di tanganku ada sebatang tongkat yang lurus. Imam Ibnu Sirin menjawab, Rumah kosong melambangkan dunia yang semu, engkau tidak berpakaian karena engkau adalah seorang yang tidak mencintai dunia, adapun engkau memegang tongkat yang lurus maknanya adalah engkau menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dengan ilmu yang engkau miliki. Imam Hasan al-Bashri bertanya lagi, Lalu bagaimana engkau mengetahui bahwa bukan utusan itu yang bermimpi?. Imam Ibnu Sirin menjawab, Menurutku tidak ada orang yang lebih pantas untuk bermimpi seperti itu selain engkau. Imam Hasan al-Bashri akhirnya memohon diri pulang dengan rasa hormat yang semakin besar kepada Imam Ibnu Sirin.
Muslim di Inggris selama berabad-abad
Muslim di Inggris selama berabad-abad
1. 1386 Chaucer mengikutsertakan referensi terhadap intelektual-intelektual Islam dalam Canterbury Tales.
2. Abad ke-16
John Nelson menjadi orang Inggris pertama yang beralih keyakinan ke Islam.
3. 1630-an
Universitas Oxford dan Cambridge menetapkan ketua jurusan bahasa Arab.

4. 1641
Dokumen yang merujuk ke ‘sekte Mahomatens ditemukan di sini di London’.
5. 1649
Terjemahan bahasa Inggris pertama untuk Kitab Suci al-Qur’an oleh Alexander Ross.

6. 1700
Kelompok besar Muslim pertama tiba di Inggris dari India. Para pelaut yang direkrut oleh East India Company membentuk masyarakat Muslim pertama di pelabuhan-pelabuahan dan kota-kota. Komunitas lainnya datang dari wilayah yang sekarang merupakan bagian dari Bangladesh dan Pakistan.
7. 1869
Gelombang imigrasi kaum Muslim selanjutnya didorong oleh pembukaan Terusan Suez. Perdagangan yang meningkat membawa pekerja Yaman dan Somalia bekerja di pelabuhan Cardiff, liverpool, Pollokshields dan London.
8. 1886
Anjuman-i-Islam, yang lalu berubah nama menjadi Pan-Islamic Society, didirikan di London.
9. 1887
William Henry Quilliam, seorang ahli hukum Liverpool, beralih keyakinan ke Islam ketika berada di Maroko. Ia mendirikan masjid Liverpool dan Institut Muslim, dan Madian House, sebuah panti asuhan di Liverpool. Ia juga menerbitkan ‘The Islamic World’ dan ‘The Crescent’; sebuah terbitan mingguan.
10. 1889 Masjid pertama dibuka di Woking.
11. 1910
Ameer Ali, seorang sarjana Islam, mengerahkan publik untuk sebuah pertemuan di Ritz yang meminta didirikannya ’sebuah masjid di London yang sepadan dengan tradisi Islam dan sepadan dengan ibukota kerajaan Inggris’.
12. 1911
Perundang-undangan tentang penyembelihan hewan memberi perkecualian untuk penyembelihan secara halal.
13. 1912 Khwaja Kamaluddin, seorang pengacara pengadilan tinggi dari Lahore, tiba di London dengan satu tujuan untuk mengkoreksi kesalahpahaman tentang Islam. Setahun kemudian, ia mulai menerbitkan ‘Islamic Review’.
14. 1914
Lord Headley, warga Inggris yang beralih ke Islam mendirikan British Muslim Sciety.
15. 1928
London Nizamiah Trust didirikan untuk mempertimbangkan proposal untuk membangun sebuah masjid pusat di London.
16. 1940
Pemerintahan mengalokasikan dana £100.000 untuk membeli sebidang tanah untuk sebuah masjid di London.
17. 1941 East London Mosque Trust membeli tiga bangunan di Commercial Road, Stepney, dan mengubahnya menjadi masjid pertama di London.
18. 1944
Raja George VI menghadiri pembukaan Islamic Cultural Centre di Regent’s park, London.
19. 1947
Tiga belas duta besar dari negara Muslim mendirikan central London Mosque Trust.
20. 1950 – 1960
Imigran Muslim tiba dari India dan Pakistan setelah pemisahan kedua negara tersebut. migrasi terdorong dikarenakan kekurangan pekerja di Inggris, khususnya pada industri besi dan tekstil di Yorkshire dan Lancashire.
21. 1951
Populasi Muslim diperkirakan mencapai 23.000.
22. 1960 – 1970
Gelombang imigran Muslim selanjutnya datang dari Afrika, utamanya Kenya dan Uganda, di mana banyak warga asia menderita akibat diskriminasi.
23. 1961
Populasi Muslim di Inggris Raya mencapai 82.000, terdorong oleh masyarakat yang terburu-buru ingin mendahului berlakunya Undang-Undang Imigran Persemakmuran ( 1962 ), yang menghapus hak izin masuk otomatis untuk warga negara Persemakmuran.
24. 1966
Delapan belas masjid di Inggris, yang meningkat dengan laju pertambahan tujuh masjid per tahun pada sepuluh tahun selanjutnya.
25. 1971
Populasi Muslim diperkirakan mencapai 369.000.
26. 1972
Idi Amin mengusir 60.000 Muslim Asia di Uganda. Banyak dari mereka menetap di Inggris.
27. 1973 Islamic Council of Europe didirikan dengan markas besarnya di London. Dialog pertama antara Kristiani dan Muslim dengan tema ‘Islam dalam lingkungan Paroki’.
28. 1974
The British Council of Churces mengangkat sebuah kelompok penasihat untuk mempelajari Islam di Inggris.
29. 1976
Festival of Islam dibuka oleh Yang Mulia Ratu.
30. 1977
London Central Mosque dibuka di Regent’s park. Belfast Islamic Centre didirikan. Terdapat kira-kira 3.000 kaum Muslim di Irlandia Utara.
31. 1984 Pendirian Islamic Relief, saat ini merupakan badan amal Muslim Inggris terbesar.
32. 1985
Terdapat 338 masjid yang terdaftar.
33. 1992
Peluncuran ‘Q-News’, majalah Muslim Inggris terbesar. Stasiun Radio Ramadhan pertama menyiarkan ceramah, musik religius dan diskusi di Bradford.
34. 1994
Islamic Society of Britain mengadakan acara Islamic Awareness Week yang pertama, dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan Islam dan menangani kesalahpahaman tentang Islam.
35. 1996
Commision on British Muslims and Islamophobia didirikan oleh badan Runnymede Trust yang independen.
36. 1997
Muslim Council of Britain ( MCB ) didirikan sebagai sebuah kelompok yang memayungi organisasi Muslim Inggris. Mohammed Sarwar menjadi anggota Parlemen Muslim pertama (untuk Govan).
37. 1998
Dua sekolah Muslim diberikan status penerima bantuan pemeliharaan. Warga muslim pertama diangkat menjadi anggota majelis Tinggi: Lord Nazir Ahmed dan Baroness Pola Uddin.
38. 2000
Kementrian Luar Negri mendirikan badan delegasi Haji tahunan untuk menyediakan bantuan medis dan konsular untuk 25.000 Muslim Inggris yang menjalankan ibadah Haji ke Mekkah setiap tahun.
39. 2001
Sensus Nasional mengikutsertakan sebuah pertanyaan mengenai agama untuk pertama kalinya. Menyusul kerusuhan di kota-kota Yorkshire, sebuah tinjauan atas pesanan pemerintah yang dipimpin oleh Ted Cantle memberi rekomendasi dalam meningkatkan persatuan masyarakat. Pemerintah menyusun perundang-undangan yang memperluas undang-undang hubungan ras agar mencakup isu hasutan yang mendorong kebencian terhadap agama.
40. 2002
Pengangkatan imam penjara tetap pertama di Brixton, London.
41. 2003
Hoeard Davies, Wakil Gubernur Bank of england, memberi pidato penting yang mendorong perkembangan keuangan Islam di Inggris Raya. Peraturan pajak mengenai pembelian rumah diperbaiki untuk menfasilitasi hipotek Islam. Pengenalan perundang-undangan yang melarang diskriminasi di tempat kerja atas dasar keyakinan agama.
42. 2004
Bank Islam pertama di Eropa, Islamic Bank of Britain, membuka cabang pertamanya di Brimingham. Alp Mehmet diangkat sebagai Duta Besar muslim Inggris pertama (untuk Islandia).
43. 2005
Kementrian pertahanan mengangkat Asim Hafiz sebagai ‘paderi’ Muslim untuk angkatan bersenjata. Badan amal Muslim berpartisipasi dalam kampanye Make Poverty History. Menyusul pengeboman di London pada tanggal 7 Juli, pemerintah mengerahkan kelompok kerja Muslim Inggris di bawah bendera Preventing Extremism Together. Dalam dua hari setelah gempa bumi di Kashmir, badan amal Muslim Inggris telah mengumpulkan dana £1,75 juta untuk bantuan darurat.
44. 2006
Victoria & Albert Museum membuka galeri baru yang didedikasikan kepada kesenian Islam. Pameran 1001 penemuan, menyorot kontribusi bangsa Arab dan Muslim pada kehidupan Modern, dibuka di Manchester Museum of Science and Industry. Amjad Hussain menjadi laksamana Muslim pertama di Inggris.
IHSAN!!
1. Mengapa Ihsan dihubungkan (difahami) sebagai dimensi Tasawuf dalam Islam ?
Pada dasarnya mempelajari tasawuf berarti berusaha dan terus berproses untuk memurnikan segala aktifitas kita di dunia, yaitu diantaranya dengan Tazkiyyatun-nafs atau mensucikan diri kita dari sifat-sifat yang tercela atau bisa menggangu kita dalam menggapai sesuatu yang haqiqi. Selain itu juga tasawuf yaitu berproses untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub ila Allah), diantaranya dengan berdzikir dan selalu ingat kepadanya.
Di dalam agama Islam ada tiga dimensi, yaitu syari’ah, thariqah dan haqiqah. syari’ah atau hukum Tuhan adalah dimensi eksoterik Islam yang lebih banyak berurusan dengan aspek lahiriyyah, thariqah atau jalan spiritual, yang sering disebut sufisme atau taswuf. Sedangkan haqiqah adalah realitas terdasar, ultimate reality, yaitu tuhan. Kesatuan antara syari’ah dan thariqah ini tidak bisa dilepaskan karena melalui syari’ah dan thariqah inilah manusia bisa sampai kepada tujuan akhirnya, yaitu haqiqah.

Dimensi Islam tersebut, yaitu syari’ah, thariqah dan haqiqah dari suatu sudut pandang, sejajar dengan tiga dimensi lain, yaitu islam, iman dan ihsan. Sebutan Qur’ani untuk fenomena yang oleh generasi-generasi Muslim belakangan disebut “sufisme” atau “tasawuf” adalah Ihsan ( berbuat kebaikan ). Ihsan adalah suatu kualitas ilahi dan insani yang banyak sekali diungkapkan oleh al-Qur’an, yang secara khusus menyebutkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang mempunyai kualitas ini. Dalam hadits yang terkenal, Nabi SAW. Mendiskripsikan ihsan sebagai dimensi terdalam dari islam, setelah islam (“penyerahan diri” atau perbuatan yang benar ) dan iman ( “iman” atau pemahaman yang benar ). ihsan adalah suatu pemahaman dan pengalaman terdalam yang dalam kata-kata hadits tadi, memungkinkan seseorang “menyembah Allah seolah-olah seseorang tersebut melihat-Nya” ( an ta’buda Allah ka’annaka tarahu ).
Ihsan adalah sesutu yang esoteris atau inti dalam islam, ihsan ini ditempuh setelah islam dan iman. Begitu pula yang dilakukan oleh para sufi yang selalu berbuat untuk mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf juga bisa disebut jalan yang utama untuk menuju tuhan, jadi tasawuf bisa diidentikkan dengan ihsan, yang dijadikan jalan tertinggi sesudah islam dan iman, dan ihsan difahami sebagai dimensi tasawuf, karena sama-sama inti ajaran dari agama Islam.
2. Ihsan dihubungkan dengan :
· Penghayatan tentang Allah SWT ?
Ihsan adalah inti ajaran dari agama islam, tentunya mempunyai penghayatan yang sangat dekat dengan tuhannya ketika seseorang sudah mencapai pada tingkatan ini, atau ketika seseorang sudah mencapai tingakt ihsan, maka dia dalam beribadah atau menghayati tuhannya yaitu sebagai sesuatu yang agung, yang haqiqi yang realitas sebenarnya.

Seseorang yang sudah mencapai tahapan ini dia akan selalu merasa berada dekat dengan tuhannya, dia akan ikhlas menjalankan segala sesuatu yang diperintahkan oleh tuhannya, rela meninggalkan keinginana syahwatnya karena ada larangan dari tuhannya. Kerinduan yang sangat besar untuk berjumpa dengan tuhannnya, tidak ada rasa untuk menerima balasan atas perbuatan baiknya yang dia rasakan hanyalah ingin berjumpa dengan tuhan yang telah menciptakannya.
· Tanggung jawab sosial seorang manusia ?
Ketika seseorang sudah merasakan tuhannya sangat dekat dan dia sangat mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya maka dia akan sangat sadar bahwa tuhannya tidak menciptakan dia sendiri,. Ada
Kepekaan yang dipunyai oleh seseorang yang telah sampai kepada tingkatan ihsan adalah kepeakaan sosial yang terbimbing oleh cahaya pengetahuan ilahi, dimana setiap dia bersosialisasi dan membantu sesamanya tidak ada rasa untuk menerima balasan ataupun mengharapkan ungkapan terimakasih dari sesamanya, yang ada hanyalah keikhlasan dan keridhaan akan tugas yang diperintahkan oleh tuhannya, yang ada hanyalah kebahagiaan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT.
· Perilaku yang baik ( Akhlakul Karimah ) ?
Perilaku yang baik adalah perilaku atau tingkah laku yang tidak menyakiti sesamanya atau orang lain. Seseorang yang telah mencapai kepada ihsan, maka hatinya akan terbimbing oleh tuhannya. Dia tidak akan keluar dari ajaran atau syari’ah yang telah ditentukan oleh tuhannya. Karena kesadaran dan kepatuhan kepada tuhannya, maka akan memancar dalam dirinya perilaku yang baik atau akhlak yang mulia. Yang dinilai oleh sesamanya sebagai orang yang berperangai baik dan tidak pernah menyakiti setiap orang yang ditemuinya. Santun dalam berbicara dan sopan dalam bertingkah laku.
· Keshalehan individu dan keshalehan sosial ?
Setelah perilaku yang terkontrol dan terpelihara maka yang muncul adalah sebuah keshalehan atau hamba yang yang baik, baik itu dalam tingkah lakunya maupun beribadah kepada Allah SWT. Selain itu juga dia tidak mungkin harus cacat dengan shaleh atau baik secara pribadi, maka akan muncul keshalehan atau sikap baik yang muncul atau diperuntukkan kepada sesamanya yang disebut dengan keshalehan sosial karena dia peduli dan sadar akan sesamanya.